Mbah Kiai Muthoharun Afif itu salah seorang kharismatik di Mojokerto. Untuk tataran do’a, insya Allah beliau ahlinya. Tapi untuk beretorika di atas podium layaknya da’i kondang yang printer melawak, beliau kurang ahli. Struktur balghah do’anya padat berisi. Diksinya menunjukkan kedalaman keilmuan dan spiritualnya. Oleh karenanya, beliau mesti kebagian do’a di kebanyakan acara pengajian umum atau pertemuan besar. Diterima atau tidak do’a seseorang, hanya Allah yang tahu memang. Hak prerogratif Tuhan. Bahkan, mbah Ibn Athoillah assakandari menuturkan dengan ungkapan indah, “bagaimana mungkin aku beranggapan do’aku diterima, sedangkan do’aku adalah takdir-Mu, ciptaan-Mu sebelum aku ada.” Bukan berati kesimpulannya kita tidak diperbolehkan berdoa dengan alasan Allah sudah mengetahui, Dia sudah menakdirkan do’a kita sebelum kita memintanya. Anjuran untuk tetap berdo’a tetaplah niscaya. Pengarang al-Hikam itu mendramatisir dengan ungkapannya lagi, “bagaimana aku tidak berdo’a, sedangkan...