Mbah Kiai Muthoharun Afif itu salah seorang kharismatik di Mojokerto. Untuk tataran do’a, insya Allah beliau ahlinya. Tapi untuk beretorika di atas podium layaknya da’i kondang yang printer melawak, beliau kurang ahli. Struktur balghah do’anya padat berisi. Diksinya menunjukkan kedalaman keilmuan dan spiritualnya. Oleh karenanya, beliau mesti kebagian do’a di kebanyakan acara pengajian umum atau pertemuan besar.
Diterima atau tidak do’a seseorang, hanya Allah yang tahu memang. Hak prerogratif Tuhan. Bahkan, mbah Ibn Athoillah assakandari menuturkan dengan ungkapan indah, “bagaimana mungkin aku beranggapan do’aku diterima, sedangkan do’aku adalah takdir-Mu, ciptaan-Mu sebelum aku ada.”
Bukan berati kesimpulannya kita tidak diperbolehkan berdoa dengan alasan Allah sudah mengetahui, Dia sudah menakdirkan do’a kita sebelum kita memintanya. Anjuran untuk tetap berdo’a tetaplah niscaya. Pengarang al-Hikam itu mendramatisir dengan ungkapannya lagi, “bagaimana aku tidak berdo’a, sedangkan Engkau memerintahkanku berdo’a?”
Kalau Syeikh Muhammad bin Yahya anNinowi mengungkapkan, “Engkau sudah mengetahui do’aku dan apa yang akan aku minta. Kau memberikan perantara do’a agar aku bisa merasakan kenikmatan berdialog mesrah dengan-Mu.”
Bagaimanapun, perwujudan do’a adalah keniscayaan. Kemakbulan adalah prerogratif Tuhan. Tapi dari ungkapan do’a, kita bisa mengetahui kedalaman spiritual seseorang. Nahnu naqumu bidhowahir, wallahu yahkumu bissarair, kita menimbang perwujudan yang nampak dari seseorang, sedangkan Allah yang menentukan rahasia dibaliknya.
Bagaimanapun, perwujudan do’a adalah keniscayaan. Kemakbulan adalah prerogratif Tuhan. Tapi dari ungkapan do’a, kita bisa mengetahui kedalaman spiritual seseorang. Nahnu naqumu bidhowahir, wallahu yahkumu bissarair, kita menimbang perwujudan yang nampak dari seseorang, sedangkan Allah yang menentukan rahasia dibaliknya.
-x-
Ada potongan pesan menarik dari mbah kiai Muthoharun beberapa bulan yang lalu. Masih terekam bagus dalam memori. Takutlah sampean pada seorang yang hafal al-Qur’an, menjalankan ajarannya, dan shalat malamnya tidak pernah luput. Orang yang seperti itu adalah kekasih Allah. Do’a, ucapan dan krentek hatinya tidak akan dibiarkan tersakiti Allah.
Ini tidak berbicara teoritik seperti di sap atas. Ini berbicara realita dunia yang nampak. Bahwa kriteria kekasih Allah yang disebutkan mbah kiai itu adalah keniscayaan yang diajarkan dalam kredo agama.
Memang semua itu prerogratif Allah. Tidak ada hukum klausal yang berlaku, kata mbah Imam al-Ghazali. Makan tidak menyebabkan kenyang dan api tidak membakar nabi Ibrahim. Tapi, terusan mbah al-Ghazali, kita dikasih akal dan ilmu untuk memahami. Bahwa api dengan keseluruhan partikelnya mempunyai sifat panas, dan makan adalah usaha untuk mengisi perut. Bukan berati makan pasti kenyang, api pasti membakar.
Kekasih Allah dengan segala sifatnya –dikasihi Allah, tidak dibiarkan tersakiti- tidak menguntungkan ataupun membahayakan kita. Tetap prerogratif Allah. Dan bahwa mereka dikasihi Allah dan dijaganya adalah suatu kepastian.
Akal dan ilmu yang diajarkan untuk memahami sifat api, makanan, dan kekasih Allah adalah untuk bersikap bijak pada ketentuan-Nya. Tidak serta mentalak ba’in makanan dengan alasan filosofis, tidak mengenyangkan. Menyalakan api dekat bensin karena api tidak membakar. Dan merendahkan kekasih Allah karena menyamakannya dengan kebanyakan makhluk. Itu konyol namanya. Dengan akal sehat, pasti memahami akan realita duniawi yang tak terbantahkan itu.
-x-
Kayaknya dari situlah mengapa, jalisil ulama menjadi penting. Bukan ulama-ulamaan, tapi ulama sungguhan. Gerakan harian menjadi terikat dengan ketuhanan perantara mereka, berkah, dan terahmati.
Ucapan mereka adalah ucapan Allah, pendengaran mereka adalah pendengaran-Nya. Saran yang mereka berikan pada kita menjadi niscaya dari keridloan ilaihi. Itu poinnya.
Sowan pada orang yang disarankan mbah kiai Muthoharun adalah kunci utama. Masalahnya, mencari orang yang hafal al-Qur’an sekaligus hamilul Qur’an dan tidak luput shalat malam di zaman sekarang ini, seperti mencari jarum dalam semak belukar. Kalaupun sudah ketemu, dan sowan pada mereka, pertengkaran dengan diri sendiri untuk menjalankan saran mereka atau meninggalkan saran adalah pertempuran yang sangat besar.
Komentar
Posting Komentar